Pelangiku

Lima tahun aku menyimpan rasaku untuknya. Sosok pendiam itu banyak menyita perhatianku. Dia kakak kelasku, sang juara kelas.Senyum tanpa banyak bicara merupakan ciri khasnya.Semua berawal dari kekaguman orang tuaku kepadanya. Mereka membuatku tertarik untuk lebih mengenal pemuda itu. Hari ini, usiaku tepat 15 tahun. Perasaanku terhadapnya masih sama, bahkan semakin bertambah setiap aku melihat senyum manis yang ia lontarkan padaku. Di usiaku ini aku tak dapat mengendalikan emosiku, aku terlalu sering menyindirnya di akun sosialku, mungkin terlalu frontal dan terlanjur dia menyadari perasaanku yang ku pendam untuknya. Aku memang benar-benar gila, aku tak menyadari apa yang telah aku lakukan. Sejak saat itu dia mulai hadir dalam hari-hariku. Jalan-jalan pagi di hari libur dan bermain layang-layang di sore hari bersamanya menjadi rutinitasku saat itu. Awalnya hanya sebagai kaka-adik. Namun semua berjalan melebihi harapanku. Dia menyatakannya, dia menyukaiku, dan membalas semua rasa yang aku pendam selama 6 tahun terakhir. Dia mulai mewarnai hari-hariku. Membuatku mengerti rasa sayang, marah, cemburu, sedih, bahagia, dan sakit hati. sakit hati? ya, karena tak lama aku bersamanya. Dia pergi dengan gadis lain, gadis yang jauh lebih baik dari aku.Layaknya pelangi, kamu datang di sela hujan badai, memberi kesan indah, lalu pergi tanpa permisi. Terima kasih ya... Setidaknya kamu pernah memberi cinta dan membuatku lebih dewasa. Aku tidak akan melupakan pelangi yang indah itu, meski ia hadir hanya sekejab dalam hidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar